blog ini saya buat karena untuk mengisi waktu luang saya SEMOGA BERMANFAAT UNTUK SEMUA ORANG

  • This is default featured slide 1 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 2 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 3 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 4 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

  • This is default featured slide 5 title

    Go to Blogger edit html and find these sentences.Now replace these sentences with your own descriptions.This theme is Bloggerized by NewBloggerThemes.com.

SANG GURU KAMI


Share:

Silsilah KHR As’ad Syamsul Arifin


Silsilah KHR As’ad Syamsul Arifin (Pahlawan Nasional), Keturunan Sunan Kudus, Sunan Ampel dan Sunan Giri ?


Pada 3 November 2016, berdasarkan Kepres Nomor 90, Bangsa Indonesia memiliki seorang Pahlawan Nasional yakni : KHR As’ad Syamsul Arifin.
Sosok Kyai As’ad dikenal dengan perjuangannya dalam melawan penjajah. Tidak segan, Kiai As’ad mengeluarkan biaya besar dalam mengkonsolidasi pasukan Hizbullah-Sabilillah disaat menumpas penjajah (sumber : nu.or.id).
silsilah-situbondo2Silsilah KHR As’ad Syamsul Arifin
Kyai As’ad adalah putra pertama dari KH Syamsul Arifin (Raden Ibrahim) yang menikah dengan Siti Maimunah. Kiai As’ad lahir pada tahun 1897 di perkampungan Syi’ib Ali Makkah dekat dengan Masjidil Haram.
Garis kerurunannya berasal dari Sunan Kudus, Sunan Ampel dan Sunan Giri. Berikut jalur silsilah beliau (sumber : Bani Abdullah Zakaria) :

Sejak tahun 1938, Kyai  As’ad mulai fokus di dunia pendidikan. Lembaga pendidikan itupun dikembangkan dengan SD, SMP, SMA, Madrasah Qur’an dan Ma’had Aly dengan nama Al-Ibrahimy.
Peran Kiai As’ad dalam pendirian organisasi Nahdlatul Ulama (NU) sangat nampak sekali. Ia merupakan santri kesayangan KH Kholil Bangkalan, yang diutus untuk menemui KH Hasyim Asy’ari memberi “tanda restu” pendirian NU.
Di usianya ke 93, Kiai As’ad. KH As’ad Syamsul Arifin wafat pada 4 Agustus 1990 dan dimakamkan di komplek Ponpes Salafiyyah Syafi’iyyah.
WaLlahu a’lamu bishshawab
Share:

Mengenal Lebih Dekat Sosok Pengasuh IV, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy

























Foto


Mengenal Lebih Dekat Sosok Pengasuh IV, KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy🍃
Februari 1980 Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki mewakili Kerajaan Mekkah, Arab Saudi berkunjung ke Sukorejo. Ditemani Kiai As’ad dan beberapa orang penting lainnya, Abuya Sayid Muhammad berbicara panjang lebar dengan Kiai As’ad waktu itu. Ditengah kumpulan orang-orang penting itu, hadir sosok bayi mungil yang berumur sekitar 20 hari. Bayi mungil yang yang masih suci tanpa noda itu sepertinya ikut larut menyimak pembicaraan kumpulan orang-orang besar tersebut.
Pembicaraan yang asyik mansyuk itu berjalan gayung tanpa terasa mereka sudah berbicara beberapa jam dan orok bayi itupun masih setia ditengah mereka yang serius berbicara.
Usai membicarakan tema-tema penting, Kiai As’ad-dengan berharap kepada Allah SWT agar bayi yang sedari tadi mengupingi isi pembicaraan itu menjadi anak yang soleh, bermanfaat bagi ummat-memohon kepada Abuya Sayid Muhammad agar sudi memangku anak itu walau sebentar.
Abuya Sayid mengabulkan permintaan Kiai As’ad. Bayi mungil itupun sudah ada dipangkuan Sang Sayid. Dalam pelukan Sayid, Bayi itu merasa nyaman dan Sayidpun tanpa terasa telah terbuai dalam cinta sang bayi. Karena Sayid telah mabuk cinta pada Bayi mungil itu, Sayidpun merasa ingin memiliki bayi itu.
Tanpa merasa ada beban, Sayid mengutarakan keinginannya untuk segera bisa memiliki dan bercengkrama dengan sang Bayi. “jika anak ini kelak sudah dewasa, biarkan ia bersama saya” ungkap Abuya Sayid Muhammad.
Keluarga, orang tua dan semua orang yang menyayangi bayi mungil tadi itu dengan penuh keihklasan menyetujui dan mengiyakan kehendak Sang Sayid
Ia, Bayi yang sempat berada dipangkuan Sayid itu tidak lain adalah sang putra Mahkota, Putra kesayangan pasangan Nyai Hj. Zainiyah As’ad dengan KH. Dhofier Munawar, yang bernama Ahmad Azaim Ibrahimy.
KHR. As’ad Syamsul Arifin, Sang Kakek bayi beruntung itu ternyata sangat serius menanggapi apa yang telah diungkapkan sayid. Bagi Kiai As’ad. Ditangan sayid, cucunya itu kelak akan menjadi anak yang soleh, bermanfaat bagi ummat, lentera bagi kegelapan. Kiai As’ad tidak pernah lelah berpesan kepada siapapun, termasuk ke Ummi bayi tadi, Nyai Hj. Zainiyah As’ad, agar Ahmad Azaim Ibrahimy kecil diserahkan ke Sayid. Keseriusan Kiai As’ad agar cucunya itu diserahkan ke Sayid juga disampaikan Kiai As’ad saat beliau sudah mulai sakit-sakitan. Bulan Agustus, di Rumah Sakit Islam Surabaya, detik-detik akhir dari wafatnya, Kiai As’ad kembali mengingatkan kepada semua orang yang ada disana agar cucunya, Ahmad Azaim Ibrahimy betul-betul diserahkan kepada Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki.
Menjadi Santri Perantau
Pihak keluarga sepakat untuk mengirim Ahmad Azaim Ibrahimy ke Tanah Suci Mekkah. Namun pihak kelurag tidak ingin terburu-buru memasrahkan Azaim kecil ketangan Sayid Muhammad. Pihak kelurga akhirnya memutuskan agar Azaim Ibrahimy menempuh pendidikan ditanah air terlebih dahulu.
Ahirnya, Azaim yang saat itu berusia sekitar 6 tahun disekolahkan di SD Ibrahimy Sukorejo. Di Sekolah Dasar milik kakeknya sendiri, Kiai As’ad inilah Azaim kecil bercengkrama dengan anak-anak seumurnya. Pada masa-masa menempuh pendidikan dasarnya ini, Azaim kecil tidak jauh beda dengan teman-temannya yang lain. Ia bermain, bergurau, nakal dan lain sebagainya. Pada masa-masa ini, Azaim kecil tidak jarang membuat mangkel Ummi dan kakak-kakaknya. Penyebabnya adalah persoalan klasik bagi anak kebanyakan, seperti merengek-rengek, membanting sesuatu jika merasa kecewa sampai urusan malas mandi.
Masa kanak-kanaknya tanpa terasa berlalu seiring dengan berlalunya sang waktu. Tahun 1992 iapun lulus SD. Karena masih belum siap pisah dengan teman-teman SD nya, ia kembali melanjutkan pendidikan menengahnya di SMP Ibrahimy Sukorejo. Masa pendidikannya di SMP milik kelaurganya ini ia tempuh dari tahun 1992-1994. Di SMP Ibrahimy ini ia tidak sampai menyelesaikan pendidikan SMP nya. Dengan berbagai pertimbangan, Tahun 1994 ia pindah ke SMP Nurul Jadid Paiton sampai lulus SMP tahun 1995. Usut punya usut, kepindahan Ra Zaim-panggilan karib Ahmad Azaim Ibrahimy-dari SMP Ibrahimy ini ternyata atas inisiatif Ra Zaim sendiri. Alasan Ra Zaim untuk pindah dari sekolah yang notabene adalah milik keluarganya sendiri sangat mencengangkan. Di SMP Ibrahimy ini Ra Zaim ingin segera pindah karena ia merasa guru-gurunya meperlakukannya dengan istimewa. Walau sebagai cucu Kiai As’ad, Ra Zaim ternyata tidak nyaman dengan perlakuan guru-gurunya pada dirinya. Iapun mendesak Sang Ummi untuk mencarikan tempat mondoknya yang baru. Atas hasil Istikhoroh dari Sang Ummi, Ra Zaimpun mantap mondok di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton.
Tidak ingin diperlakukan secara istimewa ditempat barunya ini, Ra Zaim tidak pernah sama sekali menampakkan kalau ia adalah putra KH. Dhofier Munawar. Di Pesantren inilah ia tampil apa adanya. Ra Zaim sering menyapu dan cuci piring di dapur. Usai menyapu dan cuci piring, Ra Zaim langsung pergi tanpa mau menerima imbalan yang ditawarkan kepadanya.
Merasa mendapatkan ketenangan di Pesantren ini, Ahmad Azaim Ibrahimy kembali melanjutkan pendidikan formalnya ditempat yang sama, di Madrasah Aliyah Khusus (MAK) Nurul Jadid Paiton. Perantauan ilmiyahnya di Paiton yang dimulai tahun 1994 ini berakhir sampai tahun 1998.
Ahmad Azaim Ibrahimy yang sudah menginjak usia dewasa memang sosok pemuda yang haus ilmu pengetahuan.ilmu-ilmu Hikmah yang telah merasuk kalbunya tidak serta merta membuatnya puas. Justru, dengan semua itu ia merasa kurang dan terus ingin menggali keluasan ilmu sang Khaliq.
Maka setelah menempuh pendidikan formalnya, Ra Azaim muda melanjutkan pendidikan non-formalnya di beberapa pesantren. Ia menjadi santri yang rajin berpindah dari pesantren satu kepesantren lainnya. Pada masa-masa sebagai santri rantau ini sekitar enam pondok pesantren yang pernah ia singgahi. Pada tahun 1998-1999 ia mencoba nyantri di Pondok Pesantren Ilmu Al-Qur’an (PIQ) Singosari Malang. Pada tahun 1999 ia kembali mondok beberapa bulan di Pondok Pesantren Al-Ishlah Kampung Saditon Lasem. Pada kurun tahun 2000 saja dua pondok pesantren yang ia singgahi yakni Pondok Pesantren Sidogiri Pasuruan dan Pondok Pesantren Siwalan Panji Buduran Sidoarjo. Azaim sosok lelaki haus ilmu-ilmu Tuhan itu kembali menjalani perantaunnya di Ma’had Nurul Haromain. Di Pesantren yang bertempat di Pujon Malang ini ia mondok selama tiga tahun yakni dari tahun 2000-2003.
Nah, pada tahun 2003 inilah, pihak keluarga merasa harus memenuhi janjinya kepada Abuya Sayid Muhammad. Maka pada tahun ini Ra Azaim yang sudah puas mengelilingi Pondok Pesantren-Pondok Pesantren di tanah Air memutuskan untuk berangkat ke Ma’had Rushaifah, Mekkah Al-Mukarramah asuhan Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki. Di Ma’had orang yang pernah menimangnya saat masih Bayi ini, Ahmad Azaim Ibrahimy mampu menambah pundi-pundi keilmuannya.
Tentang pendidikannya di Ma’had yang sekarang ini diasuh oleh Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki akan dibahas secara khusus. Sebelumnya, kami akan sedikit membahas Pra dan Pasca kelahirannya. Pada bagian ini juga akan dibahas masa-masa kecilnya.
Pra dan Pasca kelahiran Ahmad Azaim Ibrahimy
Tanda-tanda kalau Ra Zaim akan menjadi Pengasuh Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah dan sebagai tokoh panutan Ummat sudah terlihat sebelum kelahirannya. Bahkan sebelum ada dirahim Sang Bunda, tanda-tanda itu sudah nampak. Hal itu berawal dari mimpi Sang Bunda, Nyai Hj. Zainiyah As’ad. Saat itu Nyai Zainiyah masih belum mengandung Razaim bermimpi ayam jantan terbang mengelilingi sekitar pesantren. Ayam jantan berbulu emas kuning kemerah-merahan itu terus terbang mengelilingi Pesntren seraya berkokok dengan ucapan “Subahanal Malikil Kuddus”. Lafadz suci itu diucapkan ayam jantan sampai tiga kali.
Keesokan harinya, Nyai Zainiyah menceritakkan mimpinya kepada suami tercinta, Kiai Dhofier. Mendengar cerita dari sang istri Kiai Dhofier berdo’a akan memiliki anak laki-laki. Tidak lama dari mimpi tersebut, Nyai Zainiyah mengandung. Dan tidak lain yang ada dalam kandungan itu adalah Ahmad Azaim Ibrahimy.
Selama mengandung Putranya ini, Nyai Zainiyah tidak pernah merasa kalau ia lagi mengandung, pasalnya, kandungan tersebut tidak seperti yang ia rasakan saat mengandung anak-anaknya yang lain. Bentuk kandunganyapun seolah-olah didalamnya tidak berisi bayi.
Nyai Zainiyah merasa mengandung hanya saat sujud. Saat sujud itulah Nyai Zainiyah merasa ada yang bergerak-gerak didalam rahimnya. Setelah sujud, perasaan itu hilang kembali. Tanda-tanda kehamilan diluar sujud tidak ada sama sekali. Karena merasa tidak hamil, Nyai Zainiyah tidak pernah mau memeriksa kandungannya. Nyai Zainiyah takut kalau-kalau dokter memvonis kalau ia terserang penyakit Tumor. Maka dengan alasan itu Nyai Zainiyah tidak pernah memeriksa kandungannya.
25 Januari 1980 Ahmad Azaim Ibrahimy dilahirkan. Orok bayi yang sebelumnya dianggap oleh sang bundanya adalah penyakit tumor ternyata berbuah bayi laki-laki yang lucu. Bayi lucu itu oleh Umminya diberi nama Muhammad Imdad.
Kiai As’ad yang tau kalau bayi yang keluar dari rahim putrinya adalah bayi lelaki girangnya bukan kepalang. Sambil keluar masuk rumah, Kiai As’ad tiada henti mengucapkan kalimat Tahmid sebagai wujud syukurnya kehadirat Allah SWT yang telah menganugerahinya cucu laki-laki. Menurut Nyai Zainiyah, Kiai As’ad tidak pernah segirang seperti itu saat cucu-cucunya yang lain dilahirkan. Baru kali itulah Kiai As’ad sangat senang atas kelahiran cucunya.
Bayi lelaki yang bernama Muhammad Imdad ini diasuh oleh Nyi Siti. Bersama ibu asuhnya inilah, Muhammad Imdad lebih banyak menghabiskan hari-harinya. Nyi Siti juga sangat menyayangi anak asuhnya itu. Pun halnya dengan anak tersebut, sangat menyayangi ibu asuhnya. Imdad tidak akan pernah tertidur sebelum dininabobokkan oleh Nyi Siti. Dan apapun yang diingini anak asuhnya, Nyi Siti tidak pernah berpikir untuk menolaknya. Pada masa-masa inilah Imdad kecil sangat nakal. Ia sering melempar sesuatu jika merasa kecil. Nyi Siti selaku ibu asuhnya kerap kali menerima bugem atau pukulan dari anak asuhnya.
Pernah suatu ketika, Imdad kecil melempar batu kearah Madrasah Putri. Gara-gara Nyi Siti saat itu sedang ngajar disebuah kelas. Ia meminta Nyi Siti berhenti ngajar. Saat Imdad ngamuk datanglah Kiai As’ad. Mengetahui cucunya ngamuk seperti itu, Kiai As’ad bertanya sebab cucunya ngamuk. Nyi Siti menjawab pertanyaan Kiai As’ad bahwa Imdad ngamuk karena dirinya lagi ngajar santri. Kiai As’ad dengan nada bergurau meminta agar nama Muhammad Imdad dirubah. Saat itu Kiai As’ad menjelaskan kepada Nyi Siti kalau nama cucunya itu masih Muhammad Imdad akan sangat nakal dan sulit diatur. Maka atas permintaan Kiai As’ad, Nyai Zainiyah merubah nama Muhammad Imdad menjadi Ahmad Azaim Ibrahimy. Ahmad Azaim Ibrahimy resmi menjadi nama dari cucu Kiai As’ad itu sekitar ia baru berumur 8 tahun.
Kesenangan Ra Zaim saat kecil adalah main tembak-tembakan. Profesi yang kerap dilakukaan para tentara itu sangat digandrungi Ra Zaim kecil. Sehingga tidak jarang ia berlagak seperti tentara. Seperti memegang bedil-bedilan sambli bersembunyi seolah-olah sedang mengintai atau menghindar dari musuh. Dan hal seperti ini tidak jarang ia peragakan. Pernah suatu ketika saat Kiai As’ad menerima tamu Negara yaitu Menteri Pertahanan dan Keamanan (Menhankam), LB. Moerdani. Mengetahui kalau yang menjadi tamu kakeknya itu adalah seorang Tentara, dengan sigap Ra Zaim berlari menuju Kiai As’ad seraya berteriak “pak tembak, pak tembak (sebutan Ra Zaim kepada tentara)”. Ra Zaim yang ingin melihat secara langsung Jenderal TNI tersebut langsung duduk dipangkuan sang kakek. LB. Moerdani yang belum mengetahui siapa bocah kecil itu langsung bertanya kepada Kiai As’ad. “siapa anak ini Kiai” tanya Pak Moerdani.
Kiai As’ad menceritakan kepada tamunnya yang jenderal itu kalau anak yang duduk dipangkauannya itu adalah cucunya sendiri. “do’akan cucu saya satu-satunya ini ya pak, Insya Allah ini akan menjadi pengganti Sukorejo, akan meneruskan perjuangan saya” ujar Kiai As’ad kepada LB. Moerdani. Kiai As’ad dan LB Moerdani saat itu sedang berbicara empat mata. Tidak ada seorangpun yang ikut berbicara selain mereka berdua.
Nyi Siti yang bermaksud mengambil anak asuhnya merasa terkejut ketika mendengar apa yang baru saja diucapkan Kiai As’ad. Nyi Siti langsung menceritakan kepada Nyai Zainiyah tentang apa yang baru saja ia dengar langsung. Nyai Zainiyah tidak terlalu menggubris apa yang diceritakan Nyi Siti itu. Karena setahu Nyai Zainiyah, Kiai Fawaid sudah pasti menjadi pengganti Abahnya.
Ra Zaim ditinggal Wafat oleh Abahnya, KH. Dhofier Munawar ketika ia berumur sekitar 5 tahun. Bocah kecil itu sepertinya sadar kalau abahnya telah pergi untuk selama-lamanya. Mengetahui abahnya telah wafat, iapun terdiam seribu bahasa dan hanya memandangi jenazah abahnya. Karakternya yang rewel dan banyak tingkah saat itu tidak nampak sama sekali. Ia seperti ikut menangisi kepergian abahnya.
Karakter keras kepala yang dimiliki Ra Zaim mulai bekurang saat duduk dibangku SMP. Karakter nakalnya berubah secara perlahan-lahan menjadi sosok yang Tawaddu’, penurut dan tak banyak berbicara. Ia dikenal rajin dan giat. Hal itu paling tidak bisa terlihat ketika ia sering “pindah-pindah” mondok. Ia betul-betul menjadi santri perantau, pindah dari pondok yang satu menuju pondok yang lain.
Ra Zaim yang sudah mulai menemukan jati dirinya ini, selain tampil sebagai sosok yang giat dan haus ilmu-ilmu pengetahun, juga sebagai sosok yang perhatian, berjiwa sosial dan penyayang terhadap sekitarnya. Jiwa kepemimpinannya juga sudah mulai tanpak. Terbukti, saat liburan dari tempat mondoknya, ia pergunakan untuk mendirikan organisasi-organisasi kecil-kecilan. Dintaranya adalah Forum Komunikasi Santri Situbondo (Foksasi) dan Ikatan Silaturrahmi (Iksi). Foksasi ini sebagai wadah bagi santri-santri Situbondo yang nyantri di Sukorejo. Sedangkan Iksi ini adalah organisasi keluarga. Iksi ini sebagai wadah mempersatukan kembali kelurga besar pondok pesantren. Karena menurut hemat Ra Zaim, banyak Ahlul Bait yang sudah mulai menjauh dari pesantren. Nah, Iksi inilah yang bertugas mendatangi keluarga-keluarga yang masih ada hubungan darah dari pintu kepintu. Sampai-sampai, Iksi ini pernah berkunjung ke Pulau Madura hanya untuk mempersatukan kembali hubungan kekeluargaan diantara mereka. Perlahan namun pasti, Organisasi keluarga yang diketuai langsung oleh Ra Zaim ini mulai membuahkan hasil. Keluarga yang sebelumnya tidak “pede”bergaul dengan keluarga Dhalem mulai merapat kembali. Keluarga Dhalempun mulai menyentuh mereka.
Sebelum mendirikan Iksi ini, Ra Zaim terlebih dahulu minta izin kepada Umminya. Atas saran Umminya, Ra Zaim kemudian meghadap Pengasuh, KHR. Ach. Fawaid As’ad. Dan dihadapan Kiai Fawaid, Ra Zaim mengutarakan keinginannya untuk mendirikan Iksi. Atas restu Kiai Fawaid, Ra Zaimpun mantap mendirikan Iksi
Berangkat ke Tanah Suci Mekkah
Sejak menyelesaikan pendidikan formalnya di Pondok Pesantren Nurul Jadid Paiton (1994-1998), Ra Zaim menjadi santri perantau. Ia kerap pindah dari pesantren yang satu ke pesantren yang lain. Ia mulai pindah dari pesantren yang satu menuju pesantren yang satunya lagi pada kurun tahun 1998-2003.
Nah, perantauan Ilmiahnya terasa semakin lengkap ketika ia berangkat ke Ma’had Rushaifah pada tahun 2003. Dengan menggunakan Paspor TKI, ia berangkat menuju tanah suci. Berbekal restu Sang Ummi, Ra Zaim mantap menuju Ma’had yang saat ini diasuh Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki. Sesampainya di Kota Kelahiran Nabi Muhammad SAW itu, Ra Zaim langsung menghadap Abuya Sayid Muhammad. Saat itu, orang yang pernah menggendongnya itu sudah mulai sakit-sakitan. Baru bertemu dengan Sayid, Ra Zaim langsung diminta membantu sayid. Ia tidak diberikan keluar oleh Sayid.
Minggu-migu pertama di Kota Mekkah, Ra Zaim sering diperintahkan Sayid untuk mengantarkan makanan berbuka puasa ke Masjidil Haram. Mengantar makanan berbuka puasa inilah yang dilakukan pada Bulan Ramadhan setiap harinya. Sekitar satu tahun di Mekkah, Abuya Sayid Muhammad Alwi Al-Maliki wafat. Otomatis beliau diganti oleh putranya yaitu Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki.
Selain sebagai santri yang cerdas, Ra Zaim juga dikenal sangat dekat dengan Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki. Ia sering diminta menjadi penerjemah isi pidato Sayid Ahmad. Jika ada jama’ah haji Indonesia yang datang ke Sayid, bisa dipastikan Ra Zaimlah yang diplot sebagai penerjemah. Ra Zaim bukan hanya Mutarajjim (penerjemah) dari sayid saja, akan tetapi sering menjadi Mutarajjim jika ada tamu-tamu dari negera lain seperti Iraq, Afghanistan dll.
Sebelum menjadi penerjemah, Ra Zaim sebelumnya dipercaya sebagai kameramen. Jika ada acara-acara Sayid, maka Ra Zaim yang mengabadikan acara tersebut. Namun pekerjaan sebagai pengambil gambar tersebut saat ini memang sudah tidak dilakukan. Sudah ada santri lain yang menggantikan posisinya. Dengan demikian Ra Zaim lebih sering menjadi Mutarajjim.
Memang, di Ma’had Rushaifah Ra Zaim selain menuntut ilmu juga mengabdikan dirinya kepada gurunya. Tidak jarang ia menyapu halaman, membersihkan sekitar Ma’had. Meski tergolong darah biru, pekerjan-pekerjaan meyapu bukan sesuatu yang asing bagi Ra Zaim. Pasalnya, pekerjaan tersebut sudah sering dilakukanya saat ia masih nyantri di Nurul Jadid. Tentang kealimanya memang sudah tidak diragukan. Alim, wajar saja bagi cucu Kiai As’ad ini. Abahnya, KH. Dhofier Munawwar siapa yang tidak tau kealimannya. Cucu Kiai Ruham yang wafat tahun 1985 ini dikenal sebagai kamus berjalan. Sehingga besar kemungkinan kalau kealiman Kiai Dhofier berpindah kepada putranya yang tidak lain adalah Ahmad Azaim Ibrahimy, pengasuh IV Pondok Pesantren Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo Situbondo.
Lantas kapan ia akan resmi menjadi pemegang estafet kepemimpinan Salafiyah? Tentang kepastian kapan kepulangannya ke Tanah Air masih belum bisa dipastikan secara pasti. Keputusannya tetap ada pada Sayid Ahmad.
Namun dari keterangan Nyai Hj. Uswatun Hasanah, kakak kandung Ra Zaim sendiri mengatakan pernah melakukan komunikasi dengan adiknya itu. Saat dihubungi, Ra Zaim waktu itu sedang mengurus surat-surat kepulangannya. Yang jelas, sebagai santri yang patuh kepada Sang Guru, Ra Zaim akan menyerahkan sepenuhnya kepada Sayid Ahmad bin Muhammad Alwi Al-Maliki*.


Sumber : http://www.iksass.net/blog/2015/01/mengenal-lebih-dekat-sosok-pengasuh-iv-khr-ahmad-azaim-ibrahimy/

Share:

Kaligrafi terbesar di DUNIA (REKOR MURI)



Dalam Rangka memeriahkan dan menyambut Hari Santri Nasional tahun 2018, rekor Muri dan Dunia dipecahkan oleh  Pondok Pesantren Salafiyah Syafi'iyah Sukorejo Situbondo dengan pembuatan KALIGRAFI TERBESAR HUBUNGAN PANCASILA DAN ISLAM DALAM ANGKA pada tanggal 22 Oktober 2018.




Panjang kaligrafi yang mencapai angka 27 meter melambangkan muktamar ke 27 NU  yang melahirkan penerimaan asas tunggal pancasila di PP. Salafiyah Syafi’iyah Sukorejo 1984. Adapun lebar kaligrafi yang membentang seluas 9 meter melambangkan 9 wali yang mengislamkan tanah jawa. Dikerjakan oleh 17 santri. Tafaulan dengan 17 rakaat sehari semalam. Melambangkan Al qur’an diturunkan ke langit dunia pada tanggal 17 ramadhan




Waku pengerjaan kaligrafi raksasa itu membutuhkan 22 hari melambangkan hari santri nasional tangga 22 Oktober. Kaligrafi tersebut diangkat oleh 313 santri dan membaca dzkir basmalah melambangkan pasukan badar Rasulullah Saw.

Sedangkan 7 penyangga kaligrafi, Tafaulan pada Jumlah 7 ayat surat fatihah, jumlah lapisan langit ada 7, jumlah hari ada 7. Lafadz penciptaan semesta Kun fayakun berjumlah 7 huruf. 







KHR. Ahmad Azaim Ibrahimy
22 Oktober 2018

Share:

BIODATA

 MY BIODATA

NAMA : MOHAMMAD ISHAQ
TTL:     : SITUBONDO, 06 JUNI 1999
HOBI    :  FUTSAL
Share:

Ahklak di Bidang Tehnologi Informasi



TUGAS MAKALAH
PENDIDIKAN AGAMA ISLAM
Dosen pengampu : Muhammad Ihwan, M.HI.




AKHLAK
Disusun oleh :
1) Mohammad iqbil qouli
                                                2) Mohammad ishaq
                                                3) Muhammad irsad

UNIVERSITAS IBRAHIMY
FAKULTAS SAINTEK
TEKNOLOGI INFORMASI
2018 /2019

DAFTAR ISI
Halaman
HALAMAN JUDUL …………………………………………………………………...     i
KATA PENGANTAR ………………………………………………………………….     ii
DAFTAR ISI …………………………………………………………………………...      iii


BAB I         
                   Pengertian Akhlakul Karimah ……………………………………..                
                                   Pembagian akhlak ..........................................................
                                   Pembinaan Akhlak Dalam Kehidupan sehari-hari ..........

PENUTUP
   Kesimpulan ……………………………………………………….              1
                Daftar Pustaka ………………………………………………………...



                             KATA PENGANTAR

        Puji dan syukur kami panjatkan ke hadirat Allah SWT yang telah mencurahkan rahmat dan hidayah-Nya, sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mata kuliah Pendidikan Agama Islam Semester ke-1 tahun 2018/2019.
         Berkat rahmat dan karunianya, serta di dorong kemauan yang keras disertai kemampuan yang ada, akhirnya kami dapat menyelesaikan makalah ini yang membahas tentang ”AKHLAK” dalam mata kuliah Pendidikan Agama Islam.
    Makalah berisi tentang “akhlak”. Manusia yang hidup dalam bimbingan akhlak akan melahirkan suatu kesadaran untuk berprilaku yang sesuai dengan tuntutan dan tuntunan Allah dan Rasulnya, serta akan mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat.
penulis menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna. Karena keterbatasan ilmu dan pengetahuan penulis, maka kritik dan saran yang membangun, sangat kami harapkan demi kebaikan dimasa mendatang dan semoga bermanfaat bagi pembaca yang budiman dan khususnya pembac



PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Pengertian Akhlak Secara Etimologi, Menurut pendekatan etimologi, perkataan “akhlak” berasal dari bahasa Arab jama’ dari bentuk mufradnya “Khuluqun” yang menurut logat diartikan: budi pekerti, perangai, tingkah laku atau tabiat. Kalimat tersebut mengandung segi-segi persesuain dengan perkataan “khalkun” yang berarti kejadian, serta erat hubungan ” Khaliq” yang berarti Pencipta dan “Makhluk” yang berarti yang diciptakan. Pengertian akhlak adalah kebiasaan kehendak itu bila membiasakan sesuatu maka kebiasaannya itu disebut akhlak .Jadi pemahaman akhlak adalah seseorang yang mengeri benar akan kebiasaan perilaku yang diamalkan dalam pergaulan semata – mata taat kepada Allah dan tunduk kepada-Nya. Oleh karena itu seseorang yang sudah memahami akhlak maka dalam bertingkah laku akan timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian.Dengan demikian memahami akhlak adalah masalah fundamental dalam Islam. Namun sebaliknya tegaknya aktifitas keislaman dalam hidup dan kehidupan seseorang itulah yang dapat menerangkan bahwa orang itu memiliki BAB II





PENGERTIAN DAN PEMBAGIAN AKHLAK
2.1 Pengertian Akhlak
Diterjemah dari kitab Is’af thalibi Ridhol Khllaq bibayani Makarimil Akhlaq.Akhlak adalah sifat-sifat dan perangai yang diumpamakan pada manusia sebagai gambaran batin yang bersifat maknawi dan rohani.Dimana dengan gambaran itulah manusia dibangkitkan disaat hakikat segala sesuatu tampak dihari kiamat nanti.
Akhlak adalah kata jamak dari khuluk yang kalau dihubungkan dengan manusia,kata khuluk lawan kata dari kholq. Perilaku dan tabiat manusia baik yang terpuji maupun yang tercela disebut dengan akhlak.Akhlak merupakan etika perilaku manusia terhadap manusia lain,perilaku manusia dengan Allah SWT maupun perilaku manusia terhadap lingkungan hidup.
2.2 Pembagian Akhlak
Pembagian akhlak yang dimaksud dalam pembahasan ini adalah menurut sudut pandang Islam, baik dari segi sifat maupun dari segi objeknya. Dari segi sifatnya, akhlak dikelompokkan menjadi dua, yaitu pertama, akhlak yang baik, atau disebut juga akhlak mahmudah (terpuji) atau akhlak al-karimah; dan kedua, akhlak yang buruk atau akhlak madzmumah.

a.) Akhlak Mahmudah
“Akhlak mahmudah adalah tingkah laku terpuji yang merupakan tanda keimanan seseorang. Akhlak mahmudah atau akhlak terpuji ini dilahirkan dari sifat-sifat yang terpuji pula”.
   Sifat terpuji yang dimaksud adalah, antara lain: cinta kepada Allah, cinta kepda rasul, taat beribadah, senantiasa mengharap ridha Allah, tawadhu’, taat dan patuh kepada Rasulullah, bersyukur atas segala nikmat Allah, bersabar atas segala musibah dan cobaan, ikhlas karena Allah, jujur, menepati janji, qana’ah, khusyu dalam beribadah kepada Allah, mampu mengendalikan diri, silaturrahim, menghargai orang lain, menghormati orang lain, sopan santun, suka bermusyawarah, suka menolong kaum yang lemah, rajin belajar dan bekerja, hidup bersih, menyayangi inatang, dan menjaga kelestarian alam.
b.) Akhlak Madzmumah                                  
“Akhlak madzmumah adalah tingkah laku yang tercela atau perbuatan jahat yang merusak iman seseorang dan menjatuhkan martabat manusia.”
Sifat yang termasuk akhlak mazmumah adalah segala sifat yang bertentangan dengan akhlak mahmudah, antara lain: kufur, syirik, munafik, fasik, murtad, takabbur, riya, dengki, bohong, menghasut, kikil, bakhil, boros, dendam, khianat, tamak, fitnah, qati’urrahim, ujub, mengadu domba, sombong, putus asa, kotor, mencemari lingkungan, dan merusak alam.
Demikianlah antara lain macam-macam akhlak mahmudah dan madzmumah. Akhlak mahmudah memberikan manfaat bagi diri sendiri dan orang lain, sedangkan akhlak madzmumah merugikan diri sendiri dan orang lain. Allah berfirman dalam surat At-Tin ayat 4-6.
“Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya. Kemudian Kami kembalikan mereka ke tempat yang serendah-rendahnya (neraka). Kecuali yang beriman dan beramal shalih, mereka mendapat pahala yang tidak ada putusnya.”
Dalam sebuah hadis Rasulullah saw. bersabda.
“Sesungguhnya manusia yang berakhlak mulia dapat mencapai derajat yang tinggi dan kedudukan mulia di Akhirat. Sesungguhnya orang yang lemah ibadahnya akan menjadi buruk perangai dan akan mendapat derajat yang rendah di neraka Jahanam.” (HR. Thabrani)



Kemudian, dari segi objeknya, atau kepada siapa akhlak itu diwujudkan, dapat dilihat seperti berikut:
1.) Akhlak kepada Allah, meliputi antara lain: ibadah kepada Allah, mencintai Allah, mencintai   karena Allah, beramal karena allah, takut kepada Allah, tawadhu’, tawakkal kepada Allah, taubat, dan nadam.
2.) Akhlak kepada Rasulullah saw., meliputi antara lain: taat dan cinta kepda Rasulullah saw.
3.) Akhlak kepada keluarga, meliputi antara lain: akhlak kepada ayah, kepada ibu, kepada anak, kepada nenek, kepada kakek, kepada paman, kepada keponakan, dan seterusnya.
4.) Akhlak kepada orang lain, meliputi antara lain: akhlak kepada tetangga, akhlak kepada sesama muslim, kepada kaum lemah, dan sebagainya.
5.) Akhlak kepada lingkungan, meliputi antara lain: menyayangi binatang, merawat tumbuhan, dan lain-lain.

Metode Pembinaan Akhlak

Pembinaan akhlak merupakan tumpuan perhatian pertama dalam islam . hal ini dapat diliht dari salah satu misi kerasulan Nabi Muhammad SAW.yang utamanya adalah untuk menyempurnakan akhlak yang mulia. Dalam salah satu hadist beliau innama buitstu li utammima makarin al – akhlak(HR.Ahmad)(hanya saja aku diutus untuk menyempurnakan akhlak yang mulia.).
Perhatian islam demikian dalam pembinaan akhlak ini dapat pua dilihat dari perhatian islam terhadap pembinaan jiwa yang harus didahulukan daripada pembinaan fisik, karena dari jiwa yang baik inilah akan menghasilkan perbuatan yang baik kepada manusia sehingga menghasilkan kebaikan dan kebahagiaan pada seluruh kehidupan manusia, lahir dan bathin.
Perhatian islam dalam pembinaan akhlak selanjutnya dapat di analisis pada muatan akhlak yang terdapat pada seluruh aspek ajaran islam. Ajaran islam tentang keimanan misalnya sangat berkaitan erat dengan amal saleh, dan perbuatan yang terpuji. Iman yang tidak disertai amal saleh dinilai sebagai iman palsu, bahkan dianggap sebagai kemunafikan.
Di dalam Al qur’an

Selanjutnya bagaimana metode-metode pembinaan yang dapat kita lakukan sesuai dengan perspektif islam.yaitu:
1. Metode Uswah (teladan)
Teladan adalah sesuatu yang pantas untuk diikuti, karena mengandung nilai-nilai kemanusiaan. Manusia teladan yang harus dicontoh dan diteladani adalah Rasulullah SAW, sebagaimana firman Allah SWT dalam surah al-Ahzab ayat 21 : “Sesungguhnya terdapat dalam diri Rasulullah itu, teladan yang baik bagimu.”
Jadi, sikap dan perilaku yang harus dicontoh, adalah sikap dan perilaku Rasulullah SAW, karena sudah teruji dan diakui oleh Allah SWT.
Aplikasi metode teladan, diantaranya adalah, tidak menjelek-jelekkan seseorang, menghormati orang lain, membantu orang yang membutuhkan pertolongan, berpakaian yang sopan, tidak berbohong, tidak berjanji mungkir, membersihkan lingkungan, dan lain-lain ; yang paling penting orang yang diteladani, harus berusaha berprestasi dalam bidang tugasnya.
2. Metode Ta’widiyah (pembiasaan)
Secara etimologi, pembiasaan asal katanya adalah biasa. Dalam Kamus Umum Bahasa Indonesia, biasa artinya lazim atau umum ; seperti sedia kala ; sudah merupakan hal yang tidak terpisahkan dalam kehidupan sehari-hari.
Muhammad Mursyi dalam bukunya “Seni Mendidik Anak”, menyampaikan nasehat Imam al-Ghazali : “Seorang anak adalah amanah (titipan) bagi orang tuanya, hatinya sangat bersih bagaikan mutiara, jika dibiasakan dan diajarkan sesuatu kebaikan, maka ia akan tumbuh dewasa dengan tetap melakukan kebaikan tersebut, sehingga ia mendapatkan kebahagiaan di dunia dan akhirat”
Dalam ilmu jiwa perkembangan, dikenal teori konvergensi, dimana pribadi dapat dibentuk oleh lingkungannya, dengan mengembangkan potensi dasar yang ada padanya. Salah satu cara yang dapat dilakukan, untuk mengembangkan potensi dasar tersebut, adalah melalui kebiasaan yang baik. Oleh karena itu, kebiasaan yang baik dapat menempa pribadi yang berakhlak mulia.
Aplikasi metode pembiasaan tersebut, diantaranya adalah, terbiasa dalam keadaan berwudhu’, terbiasa tidur tidak terlalu malam dan bangun tidak kesiangan, terbiasa membaca al-Qur’ab dan Asma ul-husna shalat berjamaah di masjid/mushalla, terbiasa berpuasa sekali sebulan, terbiasa makan dengan tangan kanan dan lain-lain. Pembiasaan yang baik adalah metode yang ampuh untuk meningkatkan akhlak peserta didik dan anak didik.
3. Metode Mau’izhah (nasehat)
Kata mau’izhah berasal dari kata wa’zhu, yang berarti nasehat yang terpuji, memotivasi untuk melaksanakannya dengan perkataan yang lembut.
Allah berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 232 :…”Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman diantara kalian, yang beriman kepada Allah dan hari kemudian”…
Aplikasi metode nasehat, diantaranya adalah, nasehat dengan argumen logika, nasehat tentang keuniversalan Islam, nasehat yang berwibawa, nasehat dari aspek hukum, nasehat tentang “amar ma’ruf nahi mungkar”, nasehat tentang amal ibadah dan lain-lain. Namun yang paling penting, si pemberi nasehat harus mengamalkan terlebih dahulu apa yang dinasehatkan tersebut, kalau tidak demikian, maka nasehat hanya akan menjadi lips-service.
4. Metode Qishshah (ceritera)
Qishshah dalam pendidikan mengandung arti, suatu cara dalam menyampaikan materi pelajaran, dengan menuturkan secara kronologis, tentang bagaimana terjadinya sesuatu hal, baik yang sebenarnya terjadi ataupun hanya rekaan saja.
Dalam pendidikan Islam, ceritera yang bersumber dari al-Qur’an dan Hadis merupakan metode pendidikan yang sangat penting, alasannya, ceritera dalam al-Qur’an dan Hadis, selalu memikat, menyentuh perasaan dan mendidik perasaan keimanan, contoh, surah Yusuf, surah Bani Israil dan lain-lain.
Aplikasi metode qishshah ini, diantaranya adalah, memperdengarkan casset, video dan ceritera-ceritera tertulis atau bergambar. Pendidik harus membuka kesempatan bagi anak didik untuk bertanya, setelah itu menjelaskan tentang hikmah qishshah dalam meningkatkan akhlak mulia.
5. Metode Amtsal (perumpamaan)
Metode perumpamaan adalah metode yang banyak dipergunakan dalam al-Qur’an dan Hadis untuk mewujudkan akhlak mulia. Allah SWT berfirman dalam surah al-Baqarah ayat 17 : “Perumpamaan mereka adalah seperti orang yang menyalakan api”… Dalam beberapa literatur Islam, ditemukan banyak sekali perumpamaan, seperti mengumpamakan orang yang lemah laksana kupu-kupu, orang yang tinggi seperti jerapah, orang yang berani seperti singa, orang gemuk seperti gajah, orang kurus seperti tongkat, orang ikut-ikutan seperti beo dan lain-lain. Disarankan untuk mencari perumpamaan yang baik, ketika berbicara dengan anak didik, karena perumpamaan itu, akan melekat pada pikirannnya dan sulit untuk dilupakan.
Aplikasi metode perumpamaan, diantaranya adalah, materi yang diajarkan bersifat abstrak, membandingkan dua masalah yang selevel dan guru/orang tua tidak boleh salah dalam membandingkan, karena akan membingungkan anak didik.
Metode perumpamaan ini akan dapat memberi pemahaman yang mendalam, terhadap hal-hal yang sulit dicerna oleh perasaan. Apabila perasaan sudah disentuh, akan terwujudlah peserta didik yang memiliki akhlak mulia dengan penuh kesadaran.
6. Metode Tsawab (ganjaran)
Armai Arief dalam bukunya, Pengantar Ilmu dan Metodologi Pendidikan Islam, menjelaskan pengertian tsawab itu, sebagai : “hadiah ; hukuman. Metode ini juga penting dalam pembinaan akhlak, karena hadiah dan hukuman sama artinya dengan reward and punisment dalam pendidikan Barat. Hadiah bisa menjadi dorongan spiritual dalam bersikap baik, sedangkan hukuman dapat menjadi remote control, dari perbuatan tidak terpuji.
Aplikasi metode ganjaran yang berbentuk hadiah, diantaranya adalah, memanggil dengan panggilan kesayangan, memberikan pujian, memberikan maaf atas kesalahan mereka, mengeluarkan perkataan yang baik, bermain atau bercanda, menyambutnya dengan ramah, meneleponnya kalau perlu dan lain-lain.
Aplikasi metode ganjaran yang berbentuk hukuman, diantaranya, pandangan yang sinis, memuji orang lain dihadapannya, tidak mempedulikannya, memberikan ancaman yang positif dan menjewernya sebagai alternatif terakhir. Hadis yang diriwayatkan oleh Imam Nawawi dari Abdullah bin Basr al-Mani, ia berkata : “Aku telah diutus oleh ibuku, dengan membawa beberapa biji anggur untuk disampaikan kepada Rasulullah, kemudian aku memakannya sebelum aku sampaikan kepada beliau, dan ketika aku mendatangi Rasulullah, beliau menjewer telingaku sambil berseru ; wahai penipu”.
Dari Hadis di atas, dapat dikemukakan, bahwa menjewer telinga anak didik, boleh-boleh saja, asal tidak menyakiti. Namun di negeri ini, terjadi hal yang dilematis, menjewer telinga anak didik, bisa-bisa berurusan dengan pihak berwajib, karena adanya Undang-Undang Perlindungan Anak. Pernah terjadi seorang guru, karena menjewer telinga anak didiknya yang datang terlambat, orang tua siswanya lalu melaporkan ke polisi, lalu sang guru terpaksa masuk sel. Oleh karena itu ke depan, perlu pula dibuat Undang-Undang Perlindungan Guru, sehingga guru dalam melaksanakan tugasnya, lebih aman dan nyaman.
Akhirnya, supaya pekat tidak semakin parah, selanjutnya akhlak generasi muda akan semakin baik, dan akhlak mulia dapat pula terwujud, seyogianyalah orang tua, guru, pemimpin formal dan non-formal mengaplikasikan metode pembinaan akhlak dalam perspektif Islam itu, dalam proses pendidikan, baik dalam lembaga pendidikan formal, maupun dalam kehidupan rumah tangga.




PENUTUP
KESIMPULAN                             
akhlak. Jika seseorang sudah memahami akhlak dan menghasilkan kebiasaan hidup dengan baik, yakni pembuatan itu selalu diulang – ulang dengan kecenderungan hati (sadar)2 .Akhlak merupakan kelakuan yang timbul dari hasil perpaduan antara hati nurani, pikiran, perasaan, bawaan dan kebiasaan dan yang menyatu, membentuk suatu kesatuan tindakan akhlak yang dihayati dalam kenyataan hidup keseharian. Semua yang telah dilakukan itu akan melahirkan perasaan moral yang terdapat di dalam diri manusia itu sendiri sebagai fitrah, sehingga ia mampu membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang bermanfaat dan mana yang tidak berguna, mana yang cantik dan mana yang buruk.







DAFTAR PUSTAKA


Share:

Comment

3/recent/post-list

SANG GURU

Popular Posts

Label

Recent Posts

Unordered List

  • Lorem ipsum dolor sit amet, consectetuer adipiscing elit.
  • Aliquam tincidunt mauris eu risus.
  • Vestibulum auctor dapibus neque.

Sample Text

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipisicing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua.

Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation test link ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.

Pages

Theme Support

Need our help to upload or customize this blogger template? Contact me with details about the theme customization you need.